Peranakan

Perhiasan peranakan adalah perhiasan yang banyak dijumpai di daerah pesisir mulai dari pulau Jawa hingga Malaka sebagai akibat dari akulturasi budaya setempat / lokal dan budaya yang dibawa oleh pedagang dari Cina Selatan pada abad ke -14. Hingga keabad 17, perhiasan ini dipakai sebagai simbol atau cermin dari gaya hidup dan tingkat social pada masa itu.

Beragam perhiasan yang menjadi khas dari perhiasan pernakan adalah bros tiga susun atau yang lazim disebut dengan kerongsang yang digunakan sebagai penutup atau pengunci kebaya. Krongsang ini memiliki beragam bentuk; ada yang terpisah seperti kerongsang ibu dan anak, atau kerongsang tiga susun yang berhubungan dengan rantai dan bentuk yang merupakan stylisasi dari bunga atau daun yang merupakan pengaruh budaya Melayu. Sedangkan rantai yang menghubungkan ketiga bros ini disebut sebagai pengaruh budaya Jawa.

Bentuk perhiasan lain yang cukup popular pada perhiasan adalah Pending – ikat pinggang untuk mengikat kain. Disamping sebagai hiasan, pending ini juga digunakan sebagai alat tukar atau alat pembayaran yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Pengaruh budaya Cina, nampak pada bentuk fauna seperti kupu – kupu, burung Hong/ Phoniex, kilin, ikan, penyu naga serta lebah, yang menjadi lambang dari kesuburan, kemakmuran , panjang umur, dan kebahagiaan perkawinan.

– Manjusha Nusantara dari berbagai sumber.